Cerita fiktif dari JATIM
Suatu hari di Pasar Karang Pilang, daerah Surabaya Selatan terjadi
transaksi bisnis antara Tukang Becak dengan wanita setengah baya yang
akan pulang ke rumahnya, rupanya ibu ini merasa keberatan dengan
belanjaanya yang baru saja dibelinya dari pasar, lalu mencoba
bernegosiasi ke tukang becak dengan aksen khas surabaya-nya.
Wanita : Cak!...antarno aku nang cide e jembatan sepanjang ...yo?(Bang, Antarkan saya ke dekat jembatan sempajang yach?)
Tukang Becak : engge monggo...(ya Silakan)
Wanita : Pinten Cak ? (Berapa Bang?)
Tukang Becak : sampun, gangsal atus mawon ( Sudah 500 saja)
Karena menurut wanita ini ongkos 500 terlalu mahal, lalu dia mencoba
berargumen,
Wanita : larangnge cak ? wong ketok ngunuloh cak...cak, wis telungatus ae (Mahalnya Bang ? Kan kelihatan bang? sudah, 300 saja)
Merasa dilecehkan/kurang dihargai, tukang becak ini tidak mau ngalah,
Tukang Becak : Bulan ya ketok bu...bu (Bulan juga Kelihatan bu)
Beo Milik Kapten
Seorang pesulap yang bekerja di sebuah kapal pesiar, selalu mengulang trik yang sama setiap minggu. Pasalnya, penontonnya selalu berbeda setiap minggu.
Tapi, tetap ada masalah. Burung beo milik kapten, yang menjadi penonton setia, mulai memahami semua trik si pesulap itu. Setelahmengerti, dia mulai berteriak-teriak di tengah-tengah pertunjukan.
"Lihat, topi itu berbeda."
"Lihat, dia menyembunyikan bunga dibawah meja."
"Hei, semua kartunya adalah As!"
Si pesulap sangat jengkel tapi tak mampu berbuat apa-apa. Namanya juga, burung peliharaan sang kapten. Suatu hari, kapal pesiar itu mendapat kecelakaan dan mulai tenggelam. Si pesulap menemukan sebatang kayu dan terapung-apung di tengah laut, bersama burung beo itu. Mereka saling memandang dengan benci dan berdiam diri. Hari demi hari, mereka berdua cuma melotot satu
sama lain.
Setelah lewat satu minggu, si burung beo itu bergumam, "Oke ... oke .. saya menyerah. Dimana kamu sembunyikan sekoci penolong itu?"
Suatu hari di Pasar Karang Pilang, daerah Surabaya Selatan terjadi
transaksi bisnis antara Tukang Becak dengan wanita setengah baya yang
akan pulang ke rumahnya, rupanya ibu ini merasa keberatan dengan
belanjaanya yang baru saja dibelinya dari pasar, lalu mencoba
bernegosiasi ke tukang becak dengan aksen khas surabaya-nya.
Wanita : Cak!...antarno aku nang cide e jembatan sepanjang ...yo?(Bang, Antarkan saya ke dekat jembatan sempajang yach?)
Tukang Becak : engge monggo...(ya Silakan)
Wanita : Pinten Cak ? (Berapa Bang?)
Tukang Becak : sampun, gangsal atus mawon ( Sudah 500 saja)
Karena menurut wanita ini ongkos 500 terlalu mahal, lalu dia mencoba
berargumen,
Wanita : larangnge cak ? wong ketok ngunuloh cak...cak, wis telungatus ae (Mahalnya Bang ? Kan kelihatan bang? sudah, 300 saja)
Merasa dilecehkan/kurang dihargai, tukang becak ini tidak mau ngalah,
Tukang Becak : Bulan ya ketok bu...bu (Bulan juga Kelihatan bu)
Beo Milik Kapten
Seorang pesulap yang bekerja di sebuah kapal pesiar, selalu mengulang trik yang sama setiap minggu. Pasalnya, penontonnya selalu berbeda setiap minggu.
Tapi, tetap ada masalah. Burung beo milik kapten, yang menjadi penonton setia, mulai memahami semua trik si pesulap itu. Setelahmengerti, dia mulai berteriak-teriak di tengah-tengah pertunjukan.
"Lihat, topi itu berbeda."
"Lihat, dia menyembunyikan bunga dibawah meja."
"Hei, semua kartunya adalah As!"
Si pesulap sangat jengkel tapi tak mampu berbuat apa-apa. Namanya juga, burung peliharaan sang kapten. Suatu hari, kapal pesiar itu mendapat kecelakaan dan mulai tenggelam. Si pesulap menemukan sebatang kayu dan terapung-apung di tengah laut, bersama burung beo itu. Mereka saling memandang dengan benci dan berdiam diri. Hari demi hari, mereka berdua cuma melotot satu
sama lain.
Setelah lewat satu minggu, si burung beo itu bergumam, "Oke ... oke .. saya menyerah. Dimana kamu sembunyikan sekoci penolong itu?"





by 




» Sekolah Tanpa membawa Buku ???
» Cakar Bisnis Malaysia Sangat Kuat
» Usul Ekskul
» Barudak 9-C
» About CTL
» Pekerjaan Alumni Al - Ihya Insan Kamil Sekarang
» DOWNLOAD AREA INSAN KAMIL CENTER REQUEST
» NUZULLA BACKGROUND
» MAP PENDAFTARAN MURID BARU MA'HAD AL-IHYA BOGOR